Kidung Tari Rajapatni, Penari Senior Berkumpul di Candi Brahu

Mojokerto – Sejumlah penari senior menggelar pementasan di Candi Brahu, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jum’at (21/11/2014). Gelar seni yang diberi nama Kidung Tari Rajapatni ini menggambarkan sosok Gayatri yang peran pentingnya dalam berdirinya Kerajaan Majapahit.
kidung tari rajapatniDalam durasi satu jam, para pengunjung disuguhi para penari senior dibantu Kelompok Studi Arek Jawa Timur di Solo (Kedirek Jatim-Lo) konser gamelan dan musik ensambel. Adegan pertama dari sosok Kertanegara dengan dua putrinya hingga mangkatnya. Adengan kedua mengambarkan Gayatri mendampingi Raden Wijaya menjadi Raja Majapahit.

Aegan ketiga yakni sosok utama dibalik kejayaan Majapahit dalam bimbingan Gayatri dengan diakhiri sumpah palapa oleh Gajah Mada. Usai menggelar Kidung Tari Rajapatni di Candi Brahu, para pengunjung diajak ke Kolam Segaran. Di Kolam Segaram, dilarung damar maja sebagai perwujudan syukur kepada Sang Pencipta. Para pengujung dibuat merinding karena suasana cukup hening dan hikmat.

Sutradara Kidung Tari Rajapatni, Heri Lentho mengatakan, acara tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kerajaan Mapahait ke-721. “Seniman se-Indonesia berkumpul disini membuat sebuah pementasan dengan mengangkat kehadiran Gayatri, sosok perempuan penting berdirinya Kerajaan Majapahit,” katanya.

Seniman asal Malang ini menjelaskan, dengan mengambil dan membacakan  Negarakertagama menceritakan sosok Gayatri yang membawa spirit kenustaraan dihadirkan dari ayah hingga suaminya dan Gajah Mada. Dalam waktu sebulan, para penari dari berbagai kota ini melakukan latihan baik di Solo, Jakarta dan di Candi Brahu.

“Yang ingin kita ciptakan adalah spirit keselarasan dalam keberagaman, para penari dari berbagai daerai rela bergabung seperti, Cok Istri Ratih dari Bali, Ayu Bulantrisna Djelantik dari Jakarta dan Restu Kusumaningrum dari Jakarta. Bahasa tari adalah bahasa universal, keberagaman tidak menjadi sesuatu yang berbenturan,” urainya.

Kidung Tari Rajapatni adalah repfleksi Majapahit yakni Indonesia, semua menjadi kekuatan. Namun menurutnya, akhir-akhir ini pudar sehingga ia berusaha mengingatkan kembali dengan mengambil setting panggung secara alam diharapkan memberikan aura.

“Seperti pakaian yang digunakan penari juga sesuai asal, saya dari Malang karena selama ini kita terjebak dalam konsep barat, panggung, tata lampu. Padahal alam memberikan sesuatu luar biasa, tidak membuat telinga bisik, mata dimanjakan oleh tata lampu. Kidung seni, ada yang menyanyikan, kita menarikan,” jelasnya.

Ketua Yayasan Arsari Djojohadikusumo, Hashim Djojohadikusumo mengatakan, gelar seni Kidung Tari Rajapatni merupakan peringatan naik tahtanya Raden Wijaya sebagai raja pertama Majapahit. “Ini merupakan tradisi masyarakat Trowulan dan Indonesia,” ungkapnya.

Masih kata Prabowo Subianto ini, Trowulan merupakan situs Kerajaan Majapahit. Pelestarian warisan budaya Indonesia dan Majapahit merupakan bagian yang penting dari kekayaan bangsa indenesia bukan hanya emas, minyak, batu bata, beda namun juga budaya.

Sementara itu, pemerhati budaya, Edi Karya mengatakan, konsep gelar seni Kidung Tari Rajapatni dan tata panggung sudah megah namun tidak mengena dengan telinga orang Trowulan. “Penari-penarinya juga senior tapi ada kesalahan kecil saat Amukti Palapa, seharusnya keris dihunuskan tapi penari kesulitan mengeluarkan keris,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>