Kerajinan Enceng Gondok Tembus ke Luar Negeri

Mojokerto  – Berawal dari study tour yang diikutinya ke Jogjakarta bersama Pemkot Mojokerto, kerajinan enceng gondok buatan Suliadi (34) warga Dusun Kemlagi Barat, Desa Kemlagi, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto mulai dikenal. Dengan melibatkan ibu-ibu di sekitar rumahnya, kerajinannya pun tembus ke luar negeri.Meski mengaku kesulitan mencari bahan baku enceng gondok, kerajinan dengan omset Rp3 juta perbulan ini sampai ke negeri kincir angin, Belanda. Padahal, awal usaha yang ia geluti adalah yayasan bisnis informasi center. “Ada program penanggulan tenaga kerja dari Disnaker Kabupaten Mojokerto,” ungkapnya, Senin (26/11/2012) tadi pagi.

Program tersebut, lanjut Suliadi dikhususkan para buruh pabrik yang terkena PHK, meliputi bidang pendidikan, kerajinan serta pertanian. Mantan karyawan PT Tjiwi Kimia menuturkan, dari 17 orang anggota, hanya tiga orang yang bertahan hingga saat ini.

“Pelaksananya Surabaya langsung, semua kreatifitas dicoba hingga akhirnya kita ikut study tour Pemkot Mojokerto ke Jogja. Kita diajak ke pengrajin perak, bunga kering dan kulit. Saat itu, saya tertarik dengan tas enceng gondok seharga Rp35 ribu namun bentuknya tidak seperti yang saya miliki ini,” tuturnya.

Dari tas enceng gondok yang ia beli tersebut, iapun mempelajari karakter enceng gondok. Akhirnya, rekan kerjanya, Agus mendapatkan bahan enceng gondok dari rawa yang ada di depan pabrik Ajinomoto dan Anang yang mendapatkan tugas sebagai penjahit dan pemasarannya. Namun akhirnya, bahan enceng gondok ia peroleh dari berbagai tempat.

“Dari Pulo, Kota Mojokerto, Trowulan, Kabupaten Mojokerto, kali jaring, Ngimbangan serta sekitar pabrik Pakerin. Sebanyak 6 ton enceng gondok kering bisa diambil dari sekitar pabrik Pakerin, Pungging. Selain dengan dua rekan saya, usaha ini juga melibatkan ibu-ibu disekitar rumah sebanyak 20 orang,” jelasnya.

Selain terkendala bahan baku juga sistem pengeringannya yang hanya mengandalkan sinar matahari langsung. Jika diambil saat musim kemarau akan kering dalam waktu 10 hari, namun jika saat musim penghujan bisa kering sampai tiga minggu. Dari bahan kering enceng gondok tersebut, bisa ia buat tas, sandal, tempat tisu, pensil, topi, kotak hantaran, sampah, pakaian kotor hingga meja kursi.

“Harganya mulai Rp 10 ribu hingga Rp 150 ribu, untuk kursi empat dan meja harganya sampai Rp 4,5 juta. Selama tidak terkena air, bisa tahan lama, tiga hingga lima tahun. Pemasaran mulai dari Mojokerto dan sekitar, Banjarmasin, Belanda. Kita berharap pemerintah bisa membantu kita dalam pemasaran, modal maupun tenaga kerja karena kita sudah membantu memanfaatkan limbah enceng gondok ini,” harapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>